Sejumlah mahasiswa Universitas Almuslim melakukan terobosan inovatif melalui program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pemanfaatan potensi pangan lokal. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan upaya strategis untuk meningkatkan nilai gizi dan ekonomi masyarakat melalui pengolahan daun kelor menjadi beragam produk pangan sehat. Program ini merupakan bagian integral dari pengabdian masyarakat yang didukung oleh Program Hibah Mahasiswa Berdampak, menunjukkan komitmen mahasiswa dalam memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.
Pelatihan yang berlangsung di Desa Pante Baro Gle Siblah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, disambut antusias oleh para peserta. Anggota PKK Desa Citra Bakti dan masyarakat setempat aktif mengikuti setiap sesi, menunjukkan minat tinggi untuk mempelajari teknik pengolahan daun kelor. Inisiatif ini membuka peluang baru bagi masyarakat untuk menciptakan produk pangan bernilai tambah yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
Mahasiswa tidak hanya memperkenalkan konsep pengolahan, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung. Peserta diajak untuk mengubah daun kelor menjadi berbagai produk makanan dan minuman yang memiliki daya jual tinggi. Dari teh daun kelor dengan sentuhan lemon yang menyegarkan, hingga mie instan bergizi dan biskuit sehat, semua produk ini diciptakan dengan fokus pada kualitas nutrisi dan potensi ekonomi.
Proses pelatihan mencakup seluruh tahapan, mulai dari pengolahan bahan baku hingga tahap pengemasan yang profesional. Produk-produk yang dihasilkan dikemas dengan desain modern dan label menarik, menjadikannya siap untuk dipasarkan sebagai produk rumahan berkualitas. Kemasan yang apik ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik produk di mata konsumen dan membuka akses pasar yang lebih luas.
Salah satu produk unggulan yang berhasil diciptakan adalah mie daun kelor. Mie ini tidak hanya diolah menjadi hidangan yang lezat, tetapi juga menjadi inspirasi untuk menu khas daerah seperti mie goreng Aceh. Para pencicip merasakan perbedaan signifikan pada rasa, yang dinilai lebih lezat dan unik dibandingkan mie pada umumnya.
Lebih dari sekadar cita rasa, mie daun kelor ini juga mendapat apresiasi tinggi karena manfaat kesehatannya. Dibuat tanpa bahan pengawet dan kaya akan nutrisi, produk ini berpotensi menjadi tambahan gizi penting bagi kelompok rentan. Tenaga kesehatan desa setempat bahkan mengidentifikasi mie daun kelor sebagai menu potensial untuk mendukung program gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di Posyandu.
Sementara itu, teh daun kelor dengan campuran lemon juga sukses mencuri perhatian. Kombinasi rasa segar dan warna hijau alami yang menarik membuat teh ini menjadi pilihan minuman sehat yang digemari. Respon positif terhadap produk-produk ini menegaskan potensi besar daun kelor sebagai sumber pangan yang bernilai gizi dan ekonomi.
Melalui pelatihan ini, para mahasiswa berharap masyarakat desa dapat mandiri dalam mengembangkan usaha rumahan. Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan seperti daun kelor, masyarakat diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya konsumsi pangan sehat dan bergizi.

