Universitas Semarang (USM) melalui USM Language and Culture Center (USM LCC) baru saja menggelar sebuah lokakarya yang sangat relevan dengan perkembangan zaman. Bertajuk “Kreatif Menulis pada Era Industri Kreatif”, acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 14 Maret 2026, di Ruang Teleconference Menara Universitas Semarang.
Lokakarya ini bertujuan untuk membuka wawasan mengenai betapa pentingnya kemampuan menulis sebagai landasan kreativitas sekaligus sarana ekspresi diri di era digital yang serba cepat ini. Berbagai sudut pandang dihadirkan untuk memperkaya pemahaman para peserta.
Acara ini menghadirkan tiga tokoh inspiratif sebagai pembicara. Mereka adalah Rektor USM, Bapak Supari; sastrawan ternama, Bapak Triyanto Triwikromo; dan CEO PT Marimas Putra Kencana yang juga dikenal sebagai kreator konten edukatif, Bapak Harjanto Kusuma Halim. Diskusi yang dipandu oleh Direktur USM LCC, Bapak Adi Ekopriyono, ini dihadiri oleh mahasiswa dan dosen dari berbagai program studi.
Rektor USM, Bapak Supari, menekankan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata menjadi kalimat. Lebih dari itu, menulis adalah sebuah proses membangun gagasan yang terstruktur dan sistematis.
Menurutnya, aktivitas menulis juga melatih kejujuran intelektual dan keberanian seseorang dalam menyampaikan pandangannya. Karya tulis memegang peranan strategis dalam kehidupan sosial dan budaya, mampu membangun kesadaran publik, membentuk cara pandang, bahkan memengaruhi karakter generasi penerus.
“Menulis adalah cara mengolah pikiran secara disiplin. Dari proses itu lahir gagasan yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga mampu menjawab dinamika zaman,” ujar Bapak Supari.
Beliau juga mengajak seluruh peserta untuk menjadikan lokakarya ini sebagai momentum dalam menumbuhkan tradisi menulis yang kuat di lingkungan kampus USM.
Dalam era industri kreatif yang terus berkembang pesat, integrasi antara kedalaman pemikiran akademik dan kelincahan dalam memanfaatkan platform digital menjadi kunci utama. Kemampuan beradaptasi dan terus berinovasi melalui ide-ide kreatif akan menjadi modal penting bagi individu untuk bertahan.
Sastrawan Triyanto Triwikromo menambahkan bahwa aktivitas menulis memiliki dimensi yang lebih luas, tidak hanya kreatif, tetapi juga teologis, historis, dan filosofis.
Menurutnya, menulis dapat dimaknai sebagai respons manusia terhadap tradisi membaca dan upaya merekam pengetahuan.
Menulis adalah cara manusia menyimpan jejak pemikirannya sekaligus melawan keterbatasan ingatan.
“Menulis adalah upaya merekam kehidupan. Ia membuat pengalaman tidak hilang begitu saja, bahkan memungkinkan gagasan kita ‘berdialog’ dengan masa depan,” ungkap mantan Pemimpin Redaksi Suara Merdeka ini.
Sementara itu, Harjanto Kusuma Halim berbagi pengalamannya dalam memproduksi konten kreatif yang berakar pada gagasan sederhana dari kehidupan sehari-hari.
Ia berpendapat bahwa inspirasi sering kali muncul pada momen-momen santai, ketika seseorang lebih rileks dan terbuka terhadap ide-ide baru.
“Banyak ide muncul justru ketika kita tidak memaksakan diri. Saat pikiran santai, inspirasi datang dan bisa langsung diwujudkan menjadi konten,” jelasnya.
Melalui lokakarya ini, USM LCC berharap mahasiswa dan dosen semakin terdorong untuk mengembangkan kemampuan menulis mereka. Kemampuan menulis yang kuat secara akademik dan relevan dengan kebutuhan industri kreatif yang dinamis diharapkan dapat terus diasah.

